Kurikulum

Asteriia Kinderhaus memiliki kurikulum terintegrasi. Kurikulum dibuat dengan tujuan mengembangkan potensi dan kemampuan serta menyiapkan kematangan bersekolah anak sejak usia dini. Prinsip tumbuh kembang anak baik secara neurologis maupun psikologis menjadi dasar kami dalam membantu mengembangkan kemampuan anak di semua ranah perkembangannya. Ranah perkembangan anak yang dituju meliputi perkembangan motorik, kognitif, sosioemosi dan religi.

Perkembangan Motorik
Perkembangan motorik merupakan pondasi utama yang harus dibangun pada tumbuh kembang anak. Beragam kegiatan motorik berbasis metode Brain Gym®, Rhythmic Movement Training and Reflex Integration, serta Movement Based Learning didesain sambil bermain. Berikut ini merupakan penjelasan singkat mengenai metode-metode yang kami gunakan.

1. Brain gym® (www.braingym.org)
Brain gym® didirikan oleh Paul E Dennison, Ph.D. Beliau adalah seorang pendidik profesional, pelopor aplikasi teori otak dan penulis tingkat dunia pada keterampilan kognitif dan membaca. Gelar Doktor yang diraih dalam penelitiannya pada bidang membaca dan perkembangan kognitif. Studi klinis yang dilakukan Dennison di USA atas penyebab kesulitan belajar menghasilkan terbentuknya Educational Kinesiology dan Program Brain Gym® bersama istrinya Gail Dennison.
Brain gym® digunakan oleh anak-anak di Asteriia Kinderhaus untuk meningkatkan kemampuan belajar mereka dengan menggunakan keseluruhan otak dengan cara yang menyenangkan. Brain gym® merupakan serangkaian gerakan tubuh yang digunakan untuk mengintegrasikan semua dimensi otak untuk meningkatkan pembelajaran dan membangun harga diri (Dennison and Dennison dalam Koester, 2013). Kegiatan belajar dengan menggunakan dimensi otak secara keseluruhan akan mampu mengeluarkan potensi yang tersimpan dalam tubuh anak. Hal ini dapat terjadi karena gerakan Brain gym® akan mengakses dimensi otak yang sebelumnya belum tersentuh. Dengan demikian seluruh dimensi otak akan “menyala” sehingga anak akan menggunakan seluruh potensi otaknya untuk melakukan kegiatannya sehari-hari.

2. Movement-based learning (movementbasedlearning.com)
Movement-based learning® dikembangkan oleh Cecilia Koester, M.Ed berdasarkan perkembangan manusia secara alami, khususnya perkembangan otak dan syaraf. Selama 15 tahun diterapkan kepada berbagai individu dengan beragam kemampuan, diperoleh hasil perkembangan yang terkadang cepat dan dramatis dalam aspek fokus, pemahaman, komunikasi, pengaturan dan gerakan fisik. Seorang anak dilahirkan dengan miliaran sel syaraf yang terbentuk dari pengalaman akan gerakan dan masukan dari penginderaan. Pada awalnya susunan sel-sel syaraf tidak rapat. Untuk itu, tujuan perkembangan otak adalah menciptakan sebanyak mungkin koneksi di antara sel-sel syaraf yang ada. Pembentukan dari koneksi-koneksi ini terjadi melalui gerakan anak dan pengalaman indrawi mereka. Pengalaman akan gerakan dan kematangan otak adalah proses di mana gerakan dan penginderaan saling merangsang satu sama lain. Setiap gerakan yang dilakukan oleh anak dan pengalaman anak digerakan oleh orang lain akan disimpan dalam otaknya sebagai sensasi dari gerakan. Makin sering suatu gerakan dilakukan, semakin kokoh koneksinya di dalam otak. Struktur gerakan dasar yang khas pada manusia tertanam dalam sistem saraf pusat. Struktur tersebut memudahkan kita memilih dukungan yang tepat dalam beraktivitas dengan gerakan. Jadi, otak memfasilitasi kemampuan anak untuk bergerak seperti mengangkat kakinya, atau berjalan maju ketika ia sedang belajar berjalan.
Pola-pola gerakan tergantung pada kematangan sistem saraf pusat. Makin matang sistem saraf pusat, makin matang pula kualitas aktivitas motoriknya. Movement-based learning® menyederhanakan penggunaan pola-pola gerakan untuk meningkatkan kemampuan belajar sehingga dengan kondisi anak apapun, bisa belajar dengan mudah.
Untuk itu Asteriia Kinderhaus menggunakan metode Movement Based Learning untuk memfasilitasi anak agar bergerak dengan tepat dan memudahkan anak dalam mengenal dan belajar hal-hal yang baru.

3. Rhythmic Movement Training (www.rhythmicmovement.com)
Rhythmic Movement Training diciptakan oleh Dr. Harald Blomberg dari hasil replikasi gerakan ritmis alami seorang bayi yang dilakukan untuk menstimulasi otak demi membentuk fondasi untuk pertumbuhan yang lebih baik. RMT bekerja denganmengintegrasikan pola refleks primitif dengan mengulangi gerakan-gerakan perkembangan, tekanan isometrik yang lembut, dan self-awareness.
RMT menekankan peranan gerakan-gerakan perkembangan yang secara alami dilakukan bayi sebelum lahir, 6 bulan pertama sejak lahir, saat merangkak, dan saat belajar berjalan. Gerakan-gerakan ini penting untuk meletakkan dasar bagi perkembangan jalur syaraf dan myelinisasi di otak, efeknya pada proses belajar, serta refleks postural sepanjang usia kita. Apabila refleks postural sudah terbentuk maka seluruh kemampuan sensorinya akan terbuka. Hal ini baik bagi kemampuan motoriknya. Anak menjadi lebih lebih sadar terhadap tubuh dan lingkungannya. Dengan demikian anak mampu fokus, konsentrasi dan siap untuk belajar. Refleks yang terintegrasi adalah salah satu indikator perkembangan otak yang optimal. Refleks yang belum berkembang atau belum terintegrasi menjadi dasar dari masalah postur, keseimbangan, gangguan konsentrasi-belajar, kestabilan emosi dan masalah perilaku lainnya.
Asteriia Kinderhaus mengajak anak untuk rutin melakukan beberapa gerakan ritmis setiap hari agar dapat menstimulasi pertumbuhan dan pembentukan cabang dari sel syaraf serta lapisan myelin pada serabut-serabut syaraf. Gerakan ritmis yang dilakukan pada anak, akan dilakukan secara mandiri oleh anak maupun dengan bantuan fasilitator.

Perkembangan Kognitif
Stimulasi kognitif pada anak dilakukan dalam bentuk rangkaian kegiatan bertema tertentu. Hal ini akan menjadi bekal dan memberi wawasan serta pengetahuan dasar yang berguna bagi masa depan anak. Kegiatan berupa aktifitas sains, pengetahuan dasar matematika, kemampuan berbahasa, aktifitas seni dan keterampilan, serta kemampuan membaca Al Qur’an.

Sains
Anak-anak diperkenalkan dengan suatu benda, mahluk hidup, alam dan lingkungannya secara menyeluruh baik sifat, jenis benda, manfaat, pengaruh dan bahayanya. Tujuannya agar anak-anak dapat menghargai dan mencintai alam serta lingkungan sekitarnya. Jenis kegiatan bervariasi dalam bentuk baca buku bersama, pengalaman langsung, observasi, eksperiman dan memasak. Alat-alat yang digunakan saat kegiatan sain bergantung tema, dapat berupa magnet, kaca pembesar, mikroskop, gelas, pipet dan lain-lain. Lokasi kegiatan sering dilakukan di alam terbuka agar anak mampu mampu memahami tujuan kegiatan dengan mudah. Sebagai contoh anak diperkenalkan tentang konsep bayangan. Bentuk kegiatannya didesain bervariasi baik di dalam ruangan maupun di luar ruangan agar anak mampu memahami makna bayangan dengan baik.

Matematika
Konsep dasar matematika berkembang melalui pengalaman anak-anak menyentuh langsung bahan-bahan kegiatan yang telah disediakan, berupa balok, lego, bentuk geometri dan timbangan. Melalui bahan-bahan tersebut, anak-anak belajar mengenal konsep membilang dan berhitung, angka dengan jumlahnya, mengelompokan, pemolaan, pengukuran dan membandingkan.

Bahasa
Kemampuan berbahasa anak berkembang melalui kegiatan mendongeng, baca buku bersama, penguasaan kosakata, kecintaan terhadap membaca buku dan pengetahuan keaksaraan. Bentuk kegiatan pengenalan keaksaraan pada anak sangatlah beragam mulai dari membedakan huruf berdasarkan bentuk dan suara dengan cara menabur, meraba, tracing, lacing dan memasangkan huruf.

Seni dan keterampilan
Anak-anak memiliki kesempatan untuk berkreasi baik tematik maupun sesuai imajinasi mereka ke dalam coretan atau hasil karya tertentu. Melalui seni dan keterampilan, anak-anak mengembangkan kemampuan koordinasi motorik halus, kesadaran akan warna, bentuk, ukuran dan tekstur, mengekspresikan diri dan emosi.

Al-barqy (www.al-barqy.com)
Al-barqy adalah suatu metode Belajar Baca Al- Quran yang dikembangkan oleh K.H. Muhadjir Sulthon. Prinsip Metode Al-Barqy yaitu menggunakan titian ingatan untuk mengenalkan bunyi dan bentuk huruf, menggunakan kemiripan bentuk dan bunyi huruf sebelumnya untuk mengenal huruf yang tidak tercakup dalam kelompok titian ingatan. Anak langsung diperkenalkan pada huruf sambung selain huruf tunggal, tanda baca fattah, dhomah, kasrah, tanwin, cara membaca panjang – pendek dan tajwid.
Metode Al Barqi adalah salah satu metode belajar membaca Al-Qur’an yang menggunakan pendekatan psikologis yang bersifat struktural analitik sintetik. Melalui metode tersebut, anak akan diperkenalkan dengan beberapa kata kunci sebagai jembatan keledai untuk dapat mengenal huruf hijaiyah dan membaca qur’an dengan mudah.

Perkembangan Sosioemosi
Anak-anak pada rentang usia prasekolah memiliki inisiatif yang tinggi untuk melakukan sesuatu, tingkat partisipasinya relatif baik serta senang terlibat dalam banyak hal. Peran lingkungan yang baik mendukung keterlibatan anak dengan memberikan kesempatan dan pengalaman melakukan sesuatu secara mandiri.

Kemandirian
Anak-anak diberi kesempatan untuk belajar dalam hal bantu diri. Kami memotivasi dan mengarahkan mereka agar dapat terampil mengurus kebutuhan pribadinya sendiri sesuai tahapan usia anak, seperti:
• Terampil dalam berpakaian: Melepas dan memakai pakaian, mempersilahkan anak-anak memilih pakaiannya sendiri, belajar mengenakan pakaian, mengancingkan baju, memakai sendal dan sepatu sendiri, merekatkan dan menali sepatu.
• Keterampilan makan: Menggunakan sendok dan garpu dengan tepat, menyendokkan makanan ke dalam mulut, minum dengan dua atau satu tangan sesuai usia anak, mengembalikan peralatan makan ke dapur.
• Merawat tubuh: mencuci tangan dengan sabun, menggunakan sabun dan shampo saat mandi, menyikat gigi sendiri.
• Keterampilan berdandan: meminyaki dan menyisir rambut sendiri.
• Bermain bebas: mengambil dan mengembalikan mainan serta alat-alat kegiatan ke tempatnya, membuang sampah di tempat sampah.

Perkembangan Religi
Anak-anak memiliki karakterisktik sangat senang meniru. Untuk itu kegiatan yang dapat membantu perkembangan keagamaan pada anak adalah banyak memberikan teladan yang baik dalam hal kebaikan. Anak-anak akan dibiasakan untuk memulai kegiatan dengan membaca asma Allah, membaca doa-doa harian, mengenal dan menghafal hadits dan surat-surat pendek pada juz amma, mengetahui tata cara berwudhu, terbiasa melakukan sholat berjamaah dengan bacaan-bacaan sholatnya, berdzikir setelah sholat dan membaca doa. Selain itu, anak-anak memiliki ingatan yang tajam dan otomatis karena belum dikotori oleh pemikiran yang buruk dan masalah-masalah tertentu. Dengan demikian anak-anak mampu menghafal dengan mudah meskipun tanpa pemahaman. Pada masa inilah, moment paling tepat untuk memberikan pengaruh positif pada anak. Ingatan masa kecil akan terus diingat sepanjang masa.